Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus / DM (Patofisiologi, Definisi, Etiologi, Klasifikasi, Manifestasi Klinik)


1. Definisi

Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, demham tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000 ).

Gangren adalah proses atau keadaan  yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. (Askandar, 2001 ).

Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai. ( Askandar, 2001).

2. Anatomi Fisiologi

Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira – kira 15 cm, lebar  5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa  dan beratnya rata – rata 60 – 90 gram. Terbentang pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung.

Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan ( kepala ) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak pada alat ini. Dari segi perkembangan  embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus.

Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu :

(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.

(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.

Pulau – pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari pamkreas tersebar di seluruh pankreas dengan berat hanya 1 – 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil adalah 50 m, sedangkan yang terbesar 300 m, terbanyak adalah yang besarnya 100 – 225 m. Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 – 2 juta.

Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu :

(1). Sel – sel A ( alpha ), jumlahnya sekitar 20 – 40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi faktor hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai “ anti insulin like activity “.

(2). Sel – sel B ( betha ), jumlahnya sekitar 60 – 80 % , membuat insulin.

(3). Sel – sel D ( delta ), jumlahnya sekitar 5 – 15 %, membuat somatostatin.

Masing – masing sel tersebut, dapat dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda dengan sel beta yang  normal dimana sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk insulin sehingga dianggap tidak berfungsi.

Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808 untuk insulin manusia. Molekul insulin terdiri dari dua rantai polipeptida yang tidak sama, yaitu rantai A dan B. Kedua rantai ini dihubungkan oleh  dua jembatan ( perangkai ), yang terdiri dari disulfida. Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Insulin dapat larut pada pH 4 – 7 dengan titik isoelektrik pada 5,3. Sebelum insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar di dalam membrana sel.

Insulin di sintesis sel beta pankreas dari proinsulin dan di simpan dalam butiran berselaput yang berasal dari kompleks Golgi. Pengaturan sekresi insulin dipengaruhi efek umpan balik kadar glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa darah meningkat diatas 100 mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila kadar glukosa normal atau rendah, produksi insulin akan menurun.

Selain kadar glukosa darah, faktor lain seperti asam amino, asam lemak, dan hormon gastrointestina merangsang sekresi insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama insulin untuk meningkatkan kecepatan transport glukosa melalui membran sel ke jaringan terutama sel – sel otot, fibroblas dan sel lemak

3. Etiologi (penyebab)

DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :

  1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin.
  2. Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
  3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel – sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.
  4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.

4. Patofisiologi

a. Diabetes Melitus

Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut:

  1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200 mg/dl.
  2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah.
  3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat  menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi.

Hiperglikemia yang lama  akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.

b. Gangren Kaki Diabetik

Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia, yaitu teori sorbitol dan teori glikosilasi.

  1. 1.    Teori Sorbitol

Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisasi habis secara normal  melalui glikolisis, tetapi sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan tertumpuk dalam sel / jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi.

2. Teori Glikosilasi

Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya glikosilasi pada semua protein, terutama yang mengandung senyawa lisin. Terjadinya proses glikosilasi pada protein membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro vaskular.

Terjadinya Kaki Diabetik (KD) sendiri disebabkan oleh faktor – faktor disebutkan dalam etiologi. Faktor utama yang berperan timbulnya KD adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya KD. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki, sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsetrasi pada kaki pasien. Angiopati akan menyebabkan terganggunya  aliran darah  ke kaki. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka  penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki di malam hari, denyut arteri hilang, kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi, oksigen ( zat asam ) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh ( Levin,1993). Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai KD akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati, sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhdap penyembuhan atau pengobatan dari KD.

5. Klasifikasi

Klasifikasi yang dianjurkan oleh PERKENI adalah yang sesuai  dengan anjuran lklasifikasi DM American  Diabetes Association  ( ADA ) 1997.

Klasifikass Etiologi Diabetes Melitus (ADA 1997 ) :

  1. Diabetes Tipe 1 ( destruksi sel beta , umumnya menjurus ke defisiensi  insulin absolut)
  2. Diabetes Tipe 2 ( berpariasi mulai yang terutama dominant resistensi insulin  disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai  resistensi insulin).
  3. Diabets Tipe Lain

Defek Relatif fungsi sel beta

Maturity –onset Diabetes of the young (MODY).

  • DNA mitichondria
  • Defek Negatif Kerja Insulin
  • Penyakit eksokrin pankreas.

-          Pankreatitis

-          Tumor pankreatektomy

-          Pankreatopati Fibrokalkulus

  • Endokrinopaty

-          Akromegali

-          Sindrom Cushing

-          Feokrositoma

-          Hiperthiridisme

  • Karena Obat zat kimia

-          Vacor, pentamidin,asam nikotinat

-          Glukkokortikoid, hormon thiroid

-          Tiazid, Dilantin, interferon alfa dll

  • Infeksi

-          Rubella, Kongenital, Cyto-Megalo- Virus ( CMV)

  • Sebab Imonologi yang jarang

-          Antibodi anti insulin

  • Sindrom Genetik lain yang berkalitan dengan DM

-          Sindrom Down , Sindrom Klinefelter, Sindrpm Turner, dll.

  • Diabetes Melitus Gestasional ( DMG).

Masuk Angin, penyebab, penanganan


Assalamualaikum… selamat pagi smuanya.. pagi yang cerah ini dengan cahaya yang menyinari tiap jendela di ruangan ini, sedikit ku termenung sambil menunggu ramai suasana ruangan..

setiap orang berangan dan bermimpi, bgitu pula ilmu pengetahuan kebanyakan berasal dari mimpi-mipmi yang menjadi terwujud dan ter realisasi, mimpi yang tadinya rasa tidak mungkin tetapi dengan semakin pesatnya teknologi dan ilmu pengetahuan kadang yang tadinya tidak mungkin menjadi nyata dan terrealisasi..

sahsah saja seseorang menyatakan pendapatnya selama pendapatnya tidak melanggar hak orang lain dan tidak merugikan orang lain tentunya…

haaaah tak terasa beberapa menit telah terlewati..

baiklah pada kesempatan ini saya mau membahas suatu yang sederhana tetapi menarik.. barang kali ada yang berkomentar dan menyanggah mangga dengan senang hati kita curhat hehehe..

topik yang satu ini mengenai masuk angin…

hehehe lucu ya.. sederhana tetapi menarik..

kenapa menarik?

bagaimana tidak selama saya belajar dikesehatan tidak pernah belajar dan tidak pernah mendapatkan teori mengenai masuk angin hehehe..( dosen juga tidak per menyinggung tu..)

nah seperti yang diutarakan diawal bagaimana kalau kita berpendapat mengenai masalah masuk angin tersebut.. hehehe sekilas terdengar lucu emang..

beberapa saat kemarin saya dan teman saya berbincang-bincang mengenai hal tersebut..

saya tidak memberikan cerita deailnya pada postingan ini..

oke langsung saja..

masuk angin menurut pendapat saya:

Pengertian: masuk angin merupakan suatu keadaan atau kondisi dimana seseorang akan merasakan tidak enak pada badannya, kadang disertai perut kembung, mual, pusing, sampai terkadang muntah.

Penyebab:biasanya disebakan oleh cuaca yang dingin dan ekstrim, kondisi tubuh yang tidak fit, pembuluh darah yang tidak adaftif, kebiasaan merokok, kurang olah raga, sebagian berpendapat karena keanginan hehehe

Tanda dan gejala:pada kebanyakan kasus dapat berupa perut kembung, mual, pusing, nyeri kepala sampai muntah

Penjalanan gejala:masuk angin biasanya disebabkan oleh cuaca yang dingin don kondisi tubuh yang kurang fit, pada keadaan normal tubuh mempunyai kompensasi yang adaptif terhadap perubahan suhu di luar tubuh, lebih mudah memahami nya adalah kaca akan memuai bila di panaskan dan akan menyusut kembali ketika dingin besi jg sama maka kenapa rel kereta api antara sambungan yang satu dengan yang lain ada jaraknya. pada keadaan normal kompensasi tubuh terhadap udara yang dingin adalah tubuh dan pembuluh darah akan menyusut pula dalam istilah lain vaso kontriksi pembuluh darah, kenapa pembuluh darah ini vaso kontriksi? jawabannya adalah untuk mencegah tubuh kehilangan panas berlebih yang pada akhirnya dapat menyebabkan hipotermia (suhu tubuh <35 C) yang dapat menyebabkan kematian, vasokontriksi ini menyebabkan pori-pori kulit menjadi menutup dan mengurangi kehilangan panas akibat penguapan, selama tubuh melakukan adaptasi vasokontriksi akibatnya cairan yang ada didalam sel akan berlebih dan shif kedalam pembuluh darah, dalam keadaan normal cairan tersebut akan di ekresikan (dikeluarkan) melalui urin, selain itu dalam tubuh juga terdapat bagian yang tekanannya lebih rendah yaitu bagian sitem pencernaan, akibatnya udara akan berpindah dari tekanan yang lebih tinggi ketekanan yang lebih rendah sehingga tertimbun di sistem pencernaan dan mungkin terjadi kembung dan platus (kentut).

oke mungkin itu secara singkatnya.. lalu bagai mana dengan nyeri kepala yang terjadi?

nyeri kepala yang terjadi bisa diasumsikan sebagai akibat dari peningkatan tekanan intra kranial (peningkatan tekanan di otak yang menekan syaraf-syaraf otak sehingga menyebabkan nyeri), kenapa bisa terjadi peningkatan? peningkatan terjadi akibat yang tadi yaitu dalam beradaptasi yang seharusnya cairan di keluarkan dalam bentuk urin pada keadaan ini cairan tidak dikeluarkan, penyebab yang lain bisa disebabkan karena kondisi pembuluh darah yang buruk yang tidak bisa beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan suhu sebagai efek dari nikotin yang tertimbun dalam rokok sehingga ketika di berkontriksi dan berdilatasi tidak efektif lagi.

Penanganan:pada keadaan keadaan tertentu kita diperboleh untuk membatasi cairan selama pembatasan cairan itu tidak dilakukan dalam jangka waktu yang terlalu lama, pembatasan cairan di maksudkan untuk mengurangi penekanan ke otak akibat cairan yang berlebih, setelah keadaan lingkungan tubuh normal (cuaca dan suhu ruangan normal) kita diharuskan melakukan rehidrasi kembali (masukan cairan).

Bagaiman dengan keroka???

hehehe menurut saya kerokan dimaksudkan untuk mengembalikan kedaan pembuluh darah vasokontriksi dilatasi, pada vasokontriksi akibat suhudingin menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah otak, kerokan dimaksudkan untuk mengembalikan pembuluh darah orak menjadi vasodilatasi sehingga diharapakan dapat menurukan tekanan pada syaraf otak dan meringankan nyeri kepala tersebut selain itu mungkin untuk melancarkan pembuluh darah pada tubuh dan menghilangkan pegal-pegal yang terjadi akibat peningkatan purin yang mengkristal karena buruknya peredaran pembuluh darah.

Oke mungkin hanya ini yang bisa saya posting untuk waktu sekarang… O iya Artikel diatas murni hanya merupakan sebuah asumsi pribadi berdasarkan pengetahuan tentunya.. benar dan salah masih diragukan.. diharapkan ada yang benar-benar kompeten untuk mengomentari dan menjelaskan tentang fenomena tersebut… terimakasih… wasalam…

MATERI KULIAH KOMUNITAS KONSEP KELUARGA By. J Fikri Amrullah


di download, dibaca, dihapalkan dan berdo’a ya ….

download di dieu..

 

MATERI KULIAH KOMUNITAS KONSEP KELUARGA SEJAHTERA By. J Fikri Amrullah


CEKIDOT LANGSUNG SAJA DI DOWNLOAD JANGAN LUPA DI BACA DAN BERDO’A YA…

KLIK wae…

Asuhan Keperawatan Stroke


·      Merupakan sindrom klinik dimana ada gangguan neurologi fokal yang bersifat tiba-tiba disebabkan oleh gangguan yang terjadi pada pembuluh darah otak.

·      Gangguan neurologik: gejala hampir sama

·      Fokal: pembuluh darah otak mempunyai autoregulasi yang mempunyai siklus willis

·      Cabang pembuluh darah otak dari arteri karotis interna kanan kiri masuk ke siklus willis (pembuluh darah besar otak I)

·      Cabang pembuluh besar kedua adalah pembuluh darah vetebralis yang merupakan cabang dari arteri subklavia, menyatu menjadi pembuluh darah basilaris (spt topi berbentuk segi enam)

·      Darah masuk ke otak 20% cardiac output: nutrisi yang masuk juga 20%, sehingga otak sangat sensitif terhadap perubahan pola makan, dsb.

·      Arteri basilaris adalah gabungan dari arteri vertebaralis setelah masuk siklus willis dan bercabang-cabang yang namanya sesuai dengan letak pada otak: arteri cerebri anterior, arteri cerebri media (agak tajam sehingga sering nempel plak (proses arterosklerosis) dalam jangka waktu tertentu dapat menjadi besar dan menyumbat pembuluh darah)

ASUHAN KEPERAWATAN STROKE

·      Ciri khas stroke adalah FOKAL

·      Siklus willis bermanfaat untuk peningkatan pembuluh darah otak

·      Batang otak: dipengaruhi oleh arteri serebri posterior dan bila terjadi kerusakan/sumbatan pada pembuluh darah basalis maka akan terganggu pada b atang otak

·       AVM: arterio venus malfomasi, biasanya kelainan konginetal

Penyebab Stroke

·       Bukan hipertensi

·       Trombus, yang menyebabkan aliran darah yang terganggu sehingga otak bagian distal tidak memperoleh nutrien dan oksigen

·       Embolus, yaitu trombus yang lepas mengikuti aliran darah dan dapat menyumbat pada pembuluh darah kecil di otak sehingga pada bagian distal tidak dapat nutrien.

·       Kelemaha pembuluh darah (otot tidak berkembang sehingga pada pembuluh darah yang  lemah tersebut akan menjadi lemah dan ketika berkontraksi yang kuat akan terjadi kolaps dan spasme pembuluh darah ‘TRANSIEAN ISCEMIC ATTACK’

·       Semua penyebab tersebut dapat terjadi diseluruh pembuluh darah perifer yang bersifat fokal/setempat.

Faktor Resiko

·       Stroke merupakan penyakit degenaratif tidak dapat dihindari tetapi dapat dicegah melalui faktor resiko:

·       Hipertensi. 80% diklinik (baik kontrol/tidak, baik carier/tideka)

-      Pada usia 40 tahun harus dilakukan pemeriksaan: tekanan darah, gula darah dan lipid profil.

-      Hipertensi menjadi faktor resiko karena orang yang mengalami hipertensi (bukan hanya sistemik melainkan juga ginjal) dapat menyebabkan kontur pembuluh darah berubah, sehingga apapin yang lewat mudah tertempel dan memudahkan terjadi/memperberat arterosklerosis.

-      Hipertensi: karena kurangnya elastisitas pembuluh darah akibat arterosklerosis

-      Obat: vasodilator (adalat/nevidivin), antikoagulan(aspirin/aspilet)

·       Penyakit jangtung (stroke umum)

-      Orang MCI hampir 40-90% akan berkembang menjadi stroke padahal kerusakan terjadi pada pembuluh darah koroner. Karena orang dengan MCI akan terjadi kerusakan ditingkat endokardium yang rapuh akibat tidak mendapat suplay oksigen dan terjadi nekrotik, kemudian lepas ikut aliran darah ke otak dan menyumbat pada pembuluh darah.

-      Nekrotik terjadi 3 hari sampai 1 minggu, bila terjadi perluaan dan proses penyembuhan akan terjadi plaque. (penyembuhan luka 5 – 7 hari)

·       Penyakit jantung dengan kelainan pembuluh darah: nadi tidak tertur

·       Dibetus mellitus: viskositas darah kental dan komplikasi jangka panjang (angiopati pada pembuluh darah otak)

·       Polistemia: darah kental

-      Dapat Hb dan Ht tinggi akibat proses kekentaan darah sehingga menyangkut di pembuluh darah. Kenapa harus dilakukan pemeriksaan Hb pada pasien stroke adalah untuk mengetahui adanya polistemia dan bila kadar Hb rendah akan mempengaruhi treatment tetapi bukan untuk mengetahui adanya perdarahan pada otak.

·       Usia

·       Habit (kebiasaan)

-      Makan-makanan berlemek (Sumatra Barat)

-      Olah raga: bila tidak pembuluh darah akan lemah

-      Kebiasaan merokok, secara umum terjadi perubahan-perubahan pada pembuluh darah dan dapat menimbulkan plaque atau pengerasan pembuluh darah

Klasifikasi

nKlinik: stroke hemoragi dan non hemoragik

n Non hemoragik: penyebab: emboli, trombus  dan spasme pembuluh darah

n Kejadian: gejala klinis pelan-pelan dimulai dari kesemutan, mata kabur dan lambat laun lumpuh sebelah. Terjadi setelah istrihat lama (bangun tidur). Kenapa emboli: pada saat istiraha alairah darah menjadi lambat akabiat dari kebutuhan oksigen sedikit dan cardiac output rendah. Kesadaran: klien sadar, disatria (cadel/artikulsi tidak jelas)

n Hemoragik: terjadi tiba-tiba yang sering terjadi akibat faktor predisposisi: hipertensi berat, aneurisma dimana saat terjadi peningkatan tekanan darah akan terjadi hipertensi dan pembuluh darah pecah.

n Valsafah manufer: batuk terus menerus dan BAB yang perlu mengedan.

n Hipertensi; pembuluh drarah terjadi ektravasasi darah keluar ke interstisial. Terjadi tiba-tiba dan kesadaran turun tetapi pada pasien stroke hemoragik dapat sadar tergantung dari tingkat perdarahannya

Perjalanan

nTIA (Transien iscemic attack)

n Gejala klinis muncul maximal 24 jam, pada umumnya terjadi 10 menit, 15 menit. Example bila ada gejala seperti stroke dan pulih kembali disebut TIA.

nRIND (reversible ischemic neurologic defisit)

n Gejala klinis bisa hilang secara sempurna dangan waktu antara 24 jam sampai 1 minggu

nStroke involution: dimana terjadi prose perburukkan pada perawatan sehingga menjadi stroke yang komplit dan gejala muncul secara progresif

nStroke komplit: gejala klinis secara permanen. Apasie: sensorik/motorik karena ada kerusakan pada hemisfer kiri di area broka dan wernix

Patofisiologi

Oklusi (sumbatan pada pembuluh darah)

iskemia: airan darah berkurang

hipoxia jaringan

metabolisme anaerob (kelebihan zat asam)

ketidakseimbangan asam basa (asidosis lokal)

ketidaseimbangan elektrolit

edema intrasel

         ↓ →interstisial

edema ekstrasel

nekrosis

gejala neurologik

Metabolisme an aerob

sampah lebih banyak

asam laktat meningkat (H+)

                  sel → kalium keluar

Natrium, H+ dan air masuk

edema intrasel

Edema vasogenik:

nedema interstisial karena tekanan hidrostatik meningkat, terjadi peningkatan pengeluaran cairan ke interstisial, untuk mengatasinya dengan obat yang mempertahankan tekanan onkotik (lasik). Example asites cari pada perawatan kristis.

Pengkajian

nRiwayat keperawatan

n Riwayat penyakit saat ini (mulai dari proses terjadi baal/kesemutan, bicara tidak jelas, dan pandangan kabur)

n Riwayat penyakit terdahulu menyangkut fakktor resiko, jangan lupa USIA

n Habit (kebiasaan): makanan, olah raga dan merokok

nPemeriksaan fisik

n Neorologik

nPemeriksaan penunjang

n diagnostik:

n Rontgen: CTR (Cardiac Thoraxic Resen) dan paru

n EKG

n CT scan

n Laboratorium: sesuai faktor resiko

n Elektrolit, lipid prifile, dan gula darah

n Untuk merawat stroke dengan baik (golden time) 6-8 jam. Pada strok non hemoragik bila terjadi kerusakan maka tidak dapat diperbaiki

Diagnosa keperawatan

nLihat pada Doengos,

nGangguan perfusi cerebral

n Atasi edema/TIK

n tindakan kolaborasi

n kontrol cairan (intake output)

n manitol injeksi untuk edema cerebral, manitol distop bila kesadaran klien menurun.

n Cegah agar tidak berlanjut

n Posisi kepala 15-30’: venus return sehingga tidak ada aliran darah ke otak

n Suhu agar tetap hipotermi untuk menghindari …………………………

n Cegah munculnya valsafah manufer

n Lingkungan aman dan nyaman: mencegah pengeluaran adrenalin

BAB II. Mioma Uteri (Definisi, etiologi, Klasifikasi, Tanda Gejala)


2.1 Pengertian
Mioma Uteri adalah tumor jinak otot rahim dengan berbagai komposisi jaringan ikat. Nama lain : Leimioma Uteri dan Fibroma Uteri (Manuaba, 2001).
Mioma uteri adalah Neoplasma jinak berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah Fibromioma, Leimioma ataupun Fibroid (Saifuddin, 1999).
2.1.1 Penyebab
Etiologi belum jelas tetapi asalnya disangka dan sel-sel otot yang belum matang.
2.1.1.1 Faktor-faktor yang berpengaruh
1. Tak pernah dijumpai sebelum menarche
2. Atropi setelah menopause
3. Cepat membesar saat hamil
4. Sebagian besar masa reproduksi
(Manuaba, 2001)
2.1.1.2 Nulipara
2.1.1.3 Keturunan
(Saifuddin, 1999)

2.1.2 Jenis-jenis Mioma Uteri
2.1.2.1 Mioma Submokosum
Angka kejadian  5%. Berada di bawah endometrium dan menonjol kedalam rongga uterus. Paling sering menyebabkan perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan histerektomi walaupun ukurannya kecil. Adanya mioma submukosa dapat dirasakan sebagai suatu “Curet Bump” (benjolan waktu kuret). Kemungkinan terjadinya degenerasi sarkoma juga lebih besar pada jenis ini. Sering mempunyai tangkai yang panjang sehingga menonjol melalui vagina, disebut sebagai mioma submukosa bertungkai yang dapat menimbulkan “Myomgeburt” sering mengalami nekrose atau ulserasi (Sastrawinata, 1988).
2.1.2.2 Mioma Intramural
Mioma terdapat didinding uterus diantara serabut miometrium. Kalau besar atau multiple dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol (Sastrawinata, 1988).
(Saifuddin, 1999).
2.1.2.3 Mioma Subserosum
Letaknya di bawah tunika serosa, kadang-kadang vena yang ada dipermukaan pecah dan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Dapat tumbuh diantara kedua lapisan ligamentum latum menjadi Mioma Intra Ligamenter. Dapat tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligametrium atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus, sehingga disebut Wedering/Parasitik Fibroid. Mioma subserosa yang bertangkan dapat menimbulkan torsi (Saifuddin, 1999).

2.1.3 Perubahan Sekunder Mioma
2.1.3.1 Atrofi
Setelah menopause ataupunb sesudah mioma uteri menjadi kecil.
2.1.3.2 Degenerasi Hialin
Sering terjadi pada penderita usia lanjut. Tumor kehilangan struktu aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.
Jaringan ikat bertambah, berwarna putih keras, disebut juga sebagian mioma uteri.
2.1.3.3 Degenerasi Kistik
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan lime sehingga menyerupai Limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
2.1.3.4 Degenerasi Membaku (Cakireus Degeneration)
Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut. Oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen. Terdapat timbunan kalsium pada mioma uteri padat dan keras berwarna putih.
2.1.3.5 Degenerasi Merah (Caineous Degeneration)
Biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis : diperkirakan karena suatu nekrosis sub akut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan oleh pigmen hemosiserin dan hemofifusi. Degenrasi merah nampak khas apabila terjadi kehamilan muda diserta emisis, haus, sedikit demam, kesakitan tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan.
1. Estrogen merangsang tumbuh kembang mioma.
2. Aliran darah tidak seimbang
3. Edema sekitar tungkai
4. Tekanan hamil
2.1.3.6 Degenarasi Lemak
Jarang terjadi merupakan kelanjutan degenerasi hialin. Pada kasus-kasus lain mungkin disebabkan karena tumornya merupakan variasi campuran.
2.1.3.7 Degenerasi Sarcomateus
Jarang terjadi.
2.1.3.8 Infeksi dan Suppurasi
Banyak terjadi pada jenis submukosa oleh karrena adanya Ulcerasi.
2.1.3.9 Terjadi kekurangan darah menimbulkan
1. Nekrosis
2. Pembentukan Trombus
3. Bendungan darah dalam mioma
4. Warna merah hemosiderin/hemofuksin
(Manuaba, 2001)

2.1.4 Tanda dan Gejala
2.1.4.1 Faktor yang menimbulkan gejala klinik
1. Besarnya mioma uteri
2. Lokasi mioma uteri
3. Perubahan pada mioma uteri (Manuaba, 2001).
2.1.4.2 Perdarahan Abnormal
1. Hipermenore
2. Menorargia
3. Metrorargia
4. Menometrorargia
Yang sering menyebabkan perdarahan adalah jenis submukosa sebagai akibat pecahnya pembuluh darah. Perdarahan oleh mioma dapat menimbulkan amenia yang berat.
Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan antara lain :
1. Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia Endometrium sampai Adeno Karsinoma Endometrim.
2. Permukaan Endometrium yang lebih luas dari biasa
3. Atrofi Endometrium diatas Mioma Nibmukosur
4. Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik (Saifuddin, 1999).
2.1.4.3 Nyeri
Timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma yang diserta nekrosis setempat dan peradangan.
1. Torsi bertungkai
2. Infeksi pada mioma
2.1.4.4 Gejala dan Tanda Penekanan
Gejala ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri :
1. Pada uretra menyebabkan retensio urin
2. Pada pembuluh darah dan limfe dipinggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.

2.1.4.5 Infertilitas dan Abortus
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars interstitialis submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus.
2.1.4.6 Gejala-gejala Skunder
1. Anemia
2. Lemah
3. Pusing-pusing
4. Sesak nafas
5. Fibroid Heat, sejenis degenerasi myocard, yang dulu disangka berhubungan dengan adanya mioma uteri. Sekarang anggapan ini disangkal.
6. Erytbaru Cytosis pada mioma yang besar.

2.1.5 Komplikasi
2.1.5.1 Degenerasi Ganas
Leimioma sarkoma 0.32 – 0.6% dan seluruh mioma merupakan 50 – 57% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologik uterus yang telah diangkat.
2.1.5.2 Tasi (Putaran Tungkai)
Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi.
2.1.5.3 Nekrosis dan Infeksi
Terjadi karena gangguan sirkulasi darah padanya.

2.1.6 Mioma Uteri dan Kehamilan
Mioma uteri dapat mempengaruhi kehamilan, misalnya menyebabkan infertilitas. Risiko abortus berpengaruh karena distorsi rongga uterus, khususnya pada mioma submukosa, letak janin menghalangi kemajuan persalinan karena letaknya pada servik uterus menyebabklan inersia maupun atonia uterus, sehingga menyebabkan perdarahan pada persalinan plasenta sukar lepas dari dasarnya dan mengganggu proses involusi dalam nifas.

2.1.7 Dasar Diagnosis
2.1.7.1 Gejala Klinik
1. Infertilisasi
2. Perdarahan abnormal
3. Gejala pendesakan abnomen bagian bawah

2.1.7.2 Pemeriksaan Ginekologis
1. Dijumpai kebetulan karena tanpa gejala
2. Hasil pemeriksaan dalam diikuti > 10 cm/USG
(Manuaba, 2001).

2.1.8 Penanganan
2.1.8.1 55% dan semua mioma tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun, terutama bila :
1. Tanpa keluhan
2. Menjelang menopause
3. Besar mioma < 12 minggu kehamilan
Walaupun demikian mioma uteri memerlukan pengamatan setiap 3 – 6 bulan. Apabila terlihat adanya suatu perubahan yang berbahaya dapat terdeteksi dengan cepat dan dapat dilakukan tindakan segera.
2.1.8.2 Dalam decade terakhir ini ada usaha mengobati mioma uterus dengan Gurh Agonis (Gurha) selama 16 minggu
2.1.8.3 Pengobatan Operatif
1. Miometomi (Enukliasi Mioma)
Adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus.
2. Histerektomi
Adalah pengangkatan uterus yang umumnya merupakan tindakan terpilih.
2.1.8.4 Keadaan khusus tidak operasi/menjelang menopause
1. Radiasi
2. Pasangan radium
3. Hormonal anti estrogen/Tapro 5 (Saifuddin, 1999)
2.2 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan pada Ibu dengan Mioma Uteri
2.2.1 Pengkajian Data Subyektif
2.2.1.1 Identitas
Nama, umur, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, no. register, no. telepon.
2.2.1.2 Anamnesa
Tanggal dan jam dilakukan anamnesa
2.2.1.3 Status Perkawinan
Kawin/tidak, usia pertama kali menikah, lamanya menikah, berapa kali menikah.
2.2.1.4 Keluhan Utama
Ibu biasanya mengeluh adanya perdarahan yang abnormal : hipermenore, menorargia, metrorargia, menometorargia. Mengeluh nyeri pada perut, retensio ufing, poli uri, edema pada tungkai dan pusing.
2.2.1.5 Riwayat Menstruasi
1. Menarche
2. Siklus : tidak teratur
3. Lamanya haid :  7 – 8 hari
4. Banyaknya :  3 – 4 pembalut/hari
5. Warna darah : merah kehitaman kadang bergumpal
6. Dismenore : ya, pada saat sebelum, selama maupun setelah haid
7. Flor albus : kadang-kadang terdapat flour albus
8. HPHT
2.2.1.6 Riwayat Obstetris
No. Kehamilan Persalinan Nifas Anak KB Ket.
Suami UK Penyu
lit Jenis Peno
long Penyu
lit Jenis BB/PB H M Laktasi

2.2.1.7 Riwayat Kesehatan Klien
Jantung, DM, TBC, Hepatitis, Ginjal, Asma, (tidak ada). Biasanya mengalami gangguan dalam siklus haid seperti Hipermenore, Menorargia, Metrorargia, Menometrorargia.
2.2.1.8 Riwayat Kesehatan Keluarga
Jantung, DM, TBC, Hepatitis, Ginjal, Asma, (tidak ada). Biasanya dalam keluarga terdapat salah satu anggota keluarga yang menderita sakit yang sama seperti tumor.
2.2.1.9 Pola Aktivitas Sehari-hari
Pola nutrisi, pola eliminasi : nyeri pada saat BAK, poli uri, retensi urine, pola istirahat : pola aktivitas, pola spritual, pola hubungan seksual.

2.2.2 Data Obyektif
2.2.2.1 Keadaan Umum
2.2.2.2 Kesadaran
2.2.2.3 Tanda-tanda Vital
Tekanan darah, nadi, suhu, berat badan, tinggi badan
2.2.2.4 Pemeriksaan Fisik
1. Kepala dan muka : tidak ada masalah
2. Mata : kalau perdarahan banyak biasanya konjungtiva pucat, sklera putih.
3. Telinga : tidak terdapat masalah
4. Hidung : tidak terdapat masalah
5. Mulut dan Gigi : tidak terdapat masalah
6. Leher : tidak terdapat masalah
7. Dada : biasanya terdapat sesak nafas karena pembesaran mioma menekan diafragma
8. Abdomen : terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah, teraba massa pada uterus
9. Genetalia : adanya keluaran darah
10. Anus : timbul rasa sakit saat defekasi
11. Ekstremitas : atas : kadang terdapat oedem
bawah : kadang terdapat edema tungkai
2.2.2.5 Pemeriksaan Dalam
Teraba massa pada uterus dan terdapat nyeri tekan.
2.2.2.6 Pemeriksaan Penunjang
1. USG
2. Biopsi
3. Hb

2.2.3 Assement
2.2.3.1 Diagnosa
Mioma uteri.

2.2.4 Planning
1. Mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun terutama bila :
2. Penggunaan Gurt Agonis (Gurha) selama 16 minggu
3. Miomektomi
4. Histerektomi
5. Radiasi
6. Pasangan radium
7. Hormonal anti estrogen/Tapros

Sumber: http://ayurai.wordpress.com

Laporan Pendahuluan Kanker Cerviks (Ca Cervix, Definisi, Etiologi, Manifestasi Klinik, Patofisiologi, Asuhan Keperawatan)


  1. I.                   Pengertian

Kanker serviks / kanker leher rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim / serviks ( bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina ).

Kanker serviks merupakan  gangguan pertumbuhan seluler dan merupakan kelompok penyakit yang dimanifestasikan dengan gagalnya untuk mengontrol proliferasi dan maturasi sel pada jaringan serviks.

Kanker serviks biasania menyerang wanita berusia 35 – 55 tahun. 90 % dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada sluran servikal yang menuju ke dalam rahim.

 

  1. II.                Etiologi

Kanker serviks terjadi jika sel – sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak terkendali. Jika sel – sel serviks terus membelah, maka akan terbentuk suatu masa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak / ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut kanker serviks.

Penyebab terjadinya kelainan pada sel – sel serviks tidak diketahui secara pasti , tetapi terdapat beberapa factor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks yaitu :

  1. HPV ( Human Papiloma Virus )

HPV adalah virus penyebab kutil genitalis ( kondiloma akuminata ) yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18, 45 dan 56.

 

  1. Merokok

Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks.

  1. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini
  2. Berganti – ganti pasangan seksual
  3. Suami / pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada usia di bawah 18 tahun, berganti – ganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks.
  4. Pemakaian DES ( dietilstilbestrol ) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran.
  5. Pemakaian pil KB
  6. Infeksi herpes genitalis / infeksi klamiidia menahun.
  7. Golongan ekonomi lemah ( kerna tidak mampu melakukan pap smear secara rutin )

XII.          Manifestasi Klinik

  • Keputihan yang makin lama makin berbau akibat infeksi dan nekrosis jaringan
  • Pendarahan yang dialami segera setelah senggama (75-80%)
  • Pendarahan yang terjadi di luar senggama (Tingkat II dan III)
  • Pendarahan spontan saat defekasi
  • Pendarahan spontan pervaginaan
  • Anemia akibat pendarahan berulang
  • Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut syaraf.
  1. III.             Stadium Karsinoma Serviks

Klasifikasi internasional tentang karsinoma serviks uteri :

Tahapan Lesi

Lokasi Deskripsi
Tahap 0

 

Tahap 1

 

 

Tahap 1A

Tahap 1B

Tahap II

 

 

 

Tahap IIA

Tahap IIB

 

Tahap III

 

 

 

Tahap IIIA

 

Tahap IIIB

 

Tahap IV

Karsinoma in situ

 

Karsinoma yang hanya benar-benar berada dalam serviks

 

 

Kanker vagina

 

 

 

 

 

 

Kanker mengenai 1/3 bagian bawah vagina atau telah meluas ke salah satu atau kedua dinding pelvis

 

 

 

 

Perluasan kandung kemih

 

 

 

Perluasan rectal penyebaran jauh

Kanker terbatas pada lapisan epitel, tidak terdapat bukti invasi.

Ukuran bukan merupakan kriteria

 

 

Makroinvasi

Secara klinis jelas merupakan tahap I

Lesi telah menyebar di luar serviks hingga mengenai vagina (bukan 1/3 bagian bawah) atau area paraservikal pada salah satu sisi atau kedua sisi.

Hanya perluasan vagina

Perluasan paraservikal dengan atau tanpa mengenai vagina.

Penyakit nodus limfe yang teraba tidak merata pada dinding pelvis. Urogram IV menunjukkan salah satu atau kedua ureter tersumbat oleh tumor.

Meluas sampai 1/3 bagian bawah vagina saja

Metastase karsinoma terisolasi yang diraba pada dinding pelvis.

Bukti bahwa karsinoma mengenai kandung kemih tampak pada pemeriksaan sitoskopi atau oleh adanya fistulasi vesiko vagina.

Karsinoma menyebar keluar pelvis sejati ke organ lainnya.

  1. IV.             Patofisiologi / Pathways

Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Histologi antara epitel gepeng berlapis (squamous complex) dari portio dengan epitel kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis serviks. Pada wanita SCJ ini berada di luar ostius uteri eksternum, sedangkan pada waniya umur > 35 tahun, SCJ berada di dalam kanalis serviks. Tumor dapat tumbuh :

  1. Eksofilik mulai dari SCJ ke arah lUmen vagina sebagai masa yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
  2. Endofilik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stomaserviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
  3. Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.

Serviks normal secara alami mengalami proses metaplasi/erosio akibat saling desak-mendesak kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan masuknya mutagen, porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik melalui tingkatan NIS I, II, III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasif.. Sekali menjadi mikroinvasif atau invasif, prose keganasan akan berjalan terus.

Periode laten dari NIS – I s/d KIS 0 tergantung dari daya tahan tubuh penderita. Umumnya fase pra invasif berkisar antara 3 – 20 tahun (rata-rata 5 – 10 tahun). Perubahan epitel displastik serviks secara kontinyu yang masih memungkinkan terjadinya regresi spontan dengan pengobatan / tanpa diobati itu dikenal dengan Unitarian Concept dari Richard. Hispatologik sebagian besar 95-97% berupa epidermoid atau squamos cell carsinoma sisanya adenokarsinoma, clearcell carcinoma/mesonephroid carcinoma dan yang paling jarang adalah sarcoma.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pathways

 

  1. V.                Pemeriksaan Diagnostik
    1. Pap Smear

Pap smear dapat mendeteksi sampai 90 % kasus kanker serviks secara akurat dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal.

Akibatnya angka kematian akibat kanker servikpun menurun sampai lebih dari 50 %. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual / atau usianya telah mencapai 18 tahun, sebaiknya menjalani pap smear secara teratur yaitu 1 kali  / tahun.

Jika selam 3 kali berturut – turut menunjukkan hasil yang normal, pap smear bias dilakukan 1 kali / 2 – 3 tahun.

Hasil pemeriksaan pap smear menunjukkan stadium dari kanker serviks :

-           displasia ringan ( perubahan dini yang belum bersifat ganas )

-           displasia berat ( perubahan lanjut yang belum bersifat ganas )

-           karsinoma insitu ( kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar )

-           kanker invasive ( kanker telah menyebar lapisan serviks yang lebih dalam / ke organ tubuh lainnya )

  1. Scan (MRI, CT, Gallium) dan ultrasound

Dilakukan untuk tujuan diagnostik identifikasi metastatik dan evaluasi respon pada pengobatan.

  1. Biopsy (aspirasi, eksisi, jarum, melubangi)

Dilakukan untuk diagnosa banding dan menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sumsum tulang, kulit, organ, dsb.

  1. Penanda tumor

Zat yang dihasilkan dan disekresikan oleh sel tumor dan ditemukan dalam serum (CEA, antigen spesifik prostat, HCG, dll.)

  1. Tes kimia skrining
  2. HDL dengan diferensial dan trombosit dapat menunjukkan anemia, perubahan pada SDM dan SDP, trombosit berkurang atau meningkat.
  3. Sinar X dada

Menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.

  1. VI.             Penatalaksanaan
    1. Pada lesi precursor (lesi intra-epitel squamosa) tingkat rendah atau tingkat tinggi ditemukan maka pengangkatan non bedah konservatif, kriterapi (pembekuan dengan oksida nitrat) atau terapi laser, konisasi (pengangkutan yang berbentuk kerucut dari serviks).
    2. Pada kanker servikal invasif dilakukan radiasi atau histerektomi radikal.
    3. Pada paisen dengan kekambuhan kanker servikal dipertimbangkan untuk menjalani ekstenterasi pelvis dimana bagian besar isi pelvis diangkat.
  2. VII.          Penyebaran

Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah yaitu :

  1. Ke arah fornises dan dinding vagina
  2. Ke arah korpus uterus.
  3. Ke arah paramerium dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandungkemih.
  4. VIII.       Klasifikasi
    1. Kanker Serviks Pre-Invasif

Klasifikasi yang digunakan saat ini meliputi :

  1. CIN I displasia ringan
  2. CIN II displasia sedang
  3. CIN III displasia berat dan karsinoma insitu

Metode yang digunakan untuk mendeteksi CIN adalah papanikolaou (PAP) Test.

 

PAP test terdiri dari 5 kategori.

  1. Stadium I : Tidak ada sel abnormal
  2. Stadium II : Sel epitel diidentifikasi, inflamasi harus diukur.
  3. Stadium III : Kecurigaan Sel Abnormal
  4. Stadium IV : Sel Malignan – karsinoma insitu
  5. Stadium V : Sel malignan – kanker invasif
  6. Kanker Serviks invasif

Terdapat 2 tipe yaitu mikro-invasif dan invasif

  1. Karsinoma mikroinvasif

Adalah satu atau lebih lesi yang membesar tidak lebih dari 3 mm di bawah membran basal tanpa adanya infasif limfatik atau vaskuler.

  1. Karsinoma invasif

Adalah penyebaran karsinoma ke arah lain, kanker serviks invasif tidak menampakkan gejala tunggal yang spesifik, yang terjadi adalah pendarahan yang terjadi saat coitus atau latihan fisik, nyeri hematuria, dan gagal ginjal akibat penyebaran kanker ke kandung kemih dan obstruksi serta pendarahan rektal serta obstruksi bowel. Terapi pembedahan dan radioterapi.

  1. Kanker Serviks Lanjut dan Berulang

Sekitar 1 dari 3 wanita dengan kanker serviks invasif, mempunyai penyakit berulang atau persisten setelah terapi.

  1. IX.             Perencanaan Terapi Radiasi
    1. Terapi Radiasi Eksternal
      1. Perawatan sebelum pengobatan

Kuatkan penjelasan tentang perawatan yang digunakan untuk prosedur.

  1. Selama Terapi

-          Pilihlah kulit yang baik dengan menganjurkan menghindari sabun, kosmetik dan deodoran.

-          Pertahankan keadekuatan nutrisi.

  1. Perawatan Post Pengobatan

-          Hindari infeksi

-          Laporkan tanda-tanda infeksi

-          Monitor intake cairan dan juga keadekuatan nutrisi.

-          Beri tahu efek radiasi peresisten selama 10-14 hari sesudah pengobatan.

-          Lakukan perawatan kulit dan mulut.

  1. Terapi Radiasi Internal
    1. Pertimbangan Perawatan Umum

-          Teknik isolasi

-          Membatasi aktivitas

  1. Perawatan Pre Insersi

-          Turunkan kebutuhan untuk enema atau BAB, selama beberapa hari.

-          Pasang kateter sesuai indikasi

-          Puasakan malam hari sebelum prosedur dilakukan

-          Latih nafas panjang, latih ROM

-          Jelaskan tentang pembatasan pengunjung.

  1. Selama Terapi Radiasi

-          Monitor TTV tiap 4 jam

-          Latih ROM aktif dan nafas dalam setiap 2 jam

-          Beri posisi semi fowler

-          Beri makanan berserat dan cairan parenteral s/d 300 ml

-          Kateter tetap terpasang

-          Monitor intake dan output

-          Monitor tanda-tanda pendarahan

-          Beri support mental.

  1. Perawatan Post pengobatan

-          Hindari komplikasi post pengobatan (tromboplebitis emboli pulmonal dan pneumonia)

-          Hindari komplikasi akibat pengobatan itu sendiri (pendarahan, reaksi kulit, diare, disuria dan distansia vagina)

-          Monitor intake dan output cairan.

 

  1. Teknik Kombinasi Radiasi Eksternal dan Intrakaviter

Stadium I dan II   :           Aplikasi radium 6500 rad dengan 2x aplikasi radiasi eksternal : 5000 rad / 5 minggu.

Stadium III        :  Radiasi eksternal seluruh pelvis 2000-3000 rad kemudian 4500-5000 rad.

Stadium IV        : Hanya radiasi eksternal untuk pengobatan paliative.

XIII.       Sitostatika dalam Ginekologi

Penggolongan obat sitostatika :

  1. Golongan yang terdiri atas obat-obat yang mematikan semua sel pada siklus ®  obat-obat non spesifik
  2. Golongan obat yang mematikan pada fase tertentu dari mana proliferasi ® obat fase spesifik.
  3. Golongan obat yang merusak semua sel akan tetapi pengaruh proliferasi sel lebih besar ® obat-obat siklus spesifik.

Macam – macam obat :

  1. Obat dengan Komponen Alkil (Alkilating Agent)

Obat ini melepas alkil dalam selnya, menyebabkan gangguan pembentukan RNA. Obat ini mempengaruhi proliferasi dan interface. Efek toksik adalah : depresi sumsum tulang dengan gejala neutropeni dan trombositopeni dan pengaruh terhadap traktus digestivus dan folikel rambut (alopesia).

  1. Obat Anti Metabolit

Obat ini mempunyai identitas kimiawi yang sama, akan tetapi menghalangi berfungsinya metabolit tersebut, sehingga akan mengganggu siklus dalam sel.

  1. Obat Antibiotik

Obat ini berkhasiat spesifik terhadap siklus sel.

  1. Obat alkaloid

Golongan ini menghentikan proses mitosis pada fase metastasis.

  1. Obat Hormon

Dasar terapi ini bahwa organ yang dalam keadaan normal, rentan terhadap hormon tertentu, dapat dipengaruhi oleh hormon dari luar.

Cara Pemberian Obat

  1. Pemberian Oral

Obat yang diberikan sebaiknya obat yang larut dalam lemak. Perlu diperhatikan bahwa pemberian obat oral dapat menyebabkan kerusakan sel epitelium sehingga mengakibatkan ulkus yang disertai depresi sumsum tulang. dapat disertai pendarahan.

  1. Pemberian Intramuskuler

Kurang dianjurkan karena dapat menimbulkan nekrosis, pendarahan lokal yang sukar dihentikan.

  1. Pemberian intravena

Pemberian intravena dapat dilakukan dengan penyuntikan langsung secara “bolus” atau per infus.

  1. Pemberian intrapleura

Pemberian obat ini bertujuan untuk mengurangi produksi cairan pleura dan membunuh sel kanker.

  1. Pemberian intraperitoneal

Pemberian ini bertujuan untuk mengurangi cairan asites, obat ini diberikan intraperineum.

Syarat Pemberian Sitostatika

  1. Keadaan umum harus baik
  2. Penderita mengerti tujuan pengobatan dan mengetahui efek samping yang terjadi.
  3. Faal ginjal dan hati baik.
  4. Diagnosis histopatologik diketahui.
  5. Jenis kanker diketahui sensitif terhadap kemoterapi.
  6. Hb > 10 gr%.
  7. Leukosit > 5000/ml.
  8. Trombosit > 100.000/ml.

Selain persyaratan di atas, ada syarat yang harus dipenuhi dalam pemberian pengobatan.

  1. Mempunyai pengetahuan sitostatika dan manajemen kanker.
  2. Dilengkapi secara sarana laboratorium yang lengkap.

Efek toksik yang paling cepat tampak adalah efek pada traktus digestivus yaitu :

  1. Gingivitis
  2. Diare
  3. Rasa mual
  4. Muntah
  5. Pendarahan usus
  6. Anemia
  7. Leukopenia
  8. Trombositopenia
  9. Kenaikan suhu
  10. Hiperpigmentasi
  11. Gatal – gatal
  12. Kenaikan kadar ureum dan kreatinin.

XII.          Pencegahan

Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks yaitu :

  1. Mencegah terjadinya infeksi HPV
  2. Melakukan pemeriksaan pap smear secara teratur

Pap smear ( tes papanicolau ) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel – sel yang diperoleh dari apusan serviks. Pada pemeriksaan pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula yang dibuat dari kayu / plastik ( yang dibedakan bagian luar serviks ) dan sebuah sikat kecil ( yang dimasukkan ke dalam saluran servikal ).

Sel – sel serviks lalu dioleskan pada kaca objek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa.

24 jam sebelum menjalani pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian / pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan tampon.

Pap smear sangat efektif dalam mendeetksi perubahan prekanker pada serviks. Jika hasil pap smear menunjukkan displasia/ serviks tampak abnormal, biasanya dilakukan kalposkopi dan biopsi.

Anjuran untuk melakukan pap smear secara teratur :

  1. setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun
  2. setiap tahun untuk wanita yang berganti – ganti pasangan seksual / pernah menderita infeksi HPV / kutil kelamin
  3. setiap tahun untuk wanita yang memaaakai pil KB
  4. setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia di atas 35 tahun jika 3 kali pap smear berturut – turut menunjukkan hasil negatif / untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker
  5. sesering mungkin jika hasil pap smear menunjukkan abnormal
  6. sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan pre kanker  maupun kanker servik

Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya :

  1. anak perempuan yang berusia di bawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual
  2. jangan melakukan hubungan seksual pada penderita kutil kelamin/ gunakan kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin
  3. jangan berganti – ganti pasangan seksual
  4. berhenti merokok
  5. pemeriksaan panggul ( pap smear ) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual / pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi
  6. Identitas Klien
  7. Keluhan utama
  8. Status kesehatan
    1. Gejala yang dirasakan


XIII.       Asuhan keperawatan

A.   Pengkajian

1)      Gejala awal

2)      Timbulnya gejala

-          faktor yang memperbaiki gejala

-          faktor yang memperburuk gejala

3)      Deskripsi gejala

-         lokasi

-         kualitas

-         kuantitas

4)      Efek pada gaya hidup

  1. Riwayat Ginekologi

-          Karakteristik menstruasi

-          Menarche

-          Periode menstruasi terakhir

-          Pengalaman menstruasi

-          Pendarahan tengah siklus

-          Menopause

-          Kontrasepsi

-          Usia pada saat kehamilan pertama

-          Penyakit menular seksual

  1. Status Obstetrik P …. A…..
  2. Riwayat Medis Masa Lalu
    1. Penyakit dan Pengobatan
    2. Alergi
    3. Penyakit masa kanak-kanak dan imunisasi.
    4. Penyakit dan pembedahan sebelumnya
    5. Kecelakaan atau cedera
    6. Perilaku yang berisiko

-         gaya hidup

-         konsumsi kafein

-         mengonsumsi alcohol

-         obat-obatan

-         praktik seks yang tidak aman

  1. Riwayat penganiayaan
  2. Riwayat Kesehatan Keluarga
    1. Penyakit keturunan
    2. Penyakit saat ini dalam keluarga
    3. Riwayat penyakit jiwa dalam keluarga
    4. Genogram
    5. Riwayat psikososial
      1. Koping individu

-         Kesadaran diri dan harga diri

-         Penatalaksanaan stress

-         Penyalahgunaan zat

  1. Pola kesehatan
  • Sirkulasi

-         Gejala palpitasi

-         Perubahan tekanan darah

  • Aktifitas istirahat dan tidur

-         Kelemahan

-         Perubahan pola istirahat dan tidur

-         Adanya faktor – faktor yang mempengaruhi istirahat dan tidur misalnya : nyeri, kecemasan, keringat malam dll

  • Integritas ego

-         Factor stress ( perubahan peran, pekerjaan )

-         Cara mengatasi stress misalnya merokok, minum alcohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius dll

-         Masalah tentang perubahan penampilan misalnya alopesia, luka cacat, pembedahan, menyangkal, menarik diri, marah dll

  • Nutrisi

-         Keluhan mual

-         Muntah

-         Kebiasaan diet buruk : bahan pengawet, zat adiktif

-         Anoreksia

-         Kekurangan masa otot

-         Perubahan BB

-         Kakeksia

  • Eliminasi

-         Perubahan pola defekasi

-         Perubahan bising usus

-         Distensi abdomen

  • Neurosensori

-         Pusing

-         Sinkop

  • Nyeri / kenyamanan

-         Ketidaknyamanan ringan sampai dengan berat dihubungkan dengan proses penyakit

  • Keamanan

-         Pemajanan terhadap kimia toksik, karsinogen,

-         Ruam kulit

-         Demam

-         ulserasi

  • Interaksi social

-         Masalah tentang fungsi dan tanggung jawab peran

  • seksualitas

-         dampak pada hubungan, perubahan fungsi seksualitas

  1. Spiritual

-         Agama

-         Praktik agama

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. keadaan umum
    2. head to toe
    3. Pemeriksaan penunjang
    4. Data pendukung lain
    5. Kesimpulan
    6. Kurangnya pengetahuan mengenai prognosis penyakit dan pengobatannya brehubungan dengan tidak mengenal sumber informasi Tujuan :

B.    Diagnosa Keperawatan – Intervensi

Klien tercukupi kebutuhan pengetahuan mengenai prognosis penyakit dan pengobatannya setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam

Kriteria hasil :

-           Klien mengungkapkan informasi akurat tentang diagnosa dan aturan pengobatan pada tingkat kesiapan diri sendiri

-           Melakukan dengan benar prosedur yang dilakukan

-           Mampu menjelaskan alasan tindakan

Intervensi :

-           Tinjau ulang tingkat pengetahuan klien tentang prognosa penyakit dan pengobatan

-           Tanyakan persepsi klien tentang kanker dan pengobatan kanker serta pengalaman klien sendiri / orang lain yang pernah terkena kanker

-           Beri informasi yang jelas dan akurat dengan cara yang nyata

-           Berikan pedoman antisipasi pada pasien / orang terdekat mengenai protocol pengobatan, terapi, hasil yang diharapkan, kemungkinan efek samping

 

  1. Kecemasan b.d. ancaman kematian, ancaman perubahan status kesehatan, fungsi peran dan pola interaksi

Tujuan :

Kecemasan hilang / berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam

Kriteria hasil:

-           Klien mengatakan perasaan cemasnya hilang / berkurang

-           Tampak rileks

-           TTV dalam batas normal

Intervensi :

-           Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya

-           Beri lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan / menolak untuk bicara

-           Pertahankan bentuk sering bicara dengan pasien, bicara dengan menyentuh pasien

-           Bantu pasien / orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut

-           Beri informasi akurat, konsisten mengenai prognosis, pengobatan serta dukungan orang terdekat

-           Jelaskan prosedur bahkan kesempatan untuk bertanya

-           Tingkatkan rasa tenang dan lingkungan tenang

-           Waspadai tanda depresi

  1. Nyeri b.d. penekanan sel kanker pada saraf, kematian sel.

Tujuan :

Nyeri hilang / berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

Kriteria hasil :

-           Klien mengatakan nyeri hilang / berkurang dengan skala nyeri  0 – 3

-           Ekspresi wajah rileks

-           TTV dalam batas normal

Intervensi :

-           Tentukan riwayat nyeri : lokasi, frekuensi, durasi, intensitas dan tindakan penghilang yang digunakan

-           Berikan tindakan kenyamanan dasar ( reposisi, gosok punggung, aktifitas hiburan, musik, tertawa dll )

-           Evaluasi penghilangan nyeri

-           Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi

  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. metabolisme tubuh meningkat, nafsu makan turun.

Tujuan :

Status nutrisi dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan tubuh setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

Kriteria hasil :

-           Konjungtiva tidak anemis

-           Sclera tidak ikterik

-           BB dalam batas normal

-           Hasil laboratorium dalam batas normal : Hb

Intervensi :

-           Pantau masukan makanan setiap hari

-           Ukur BB setiap hari / sesuai indikasi

-           Dorong klien untuk makan makanan tinggi kalori, kaya nutrien

-           Ciptakan suasana makan yang menyenangkan

-           Dorong penggunaan tehnik relaksasi, visualisasi sebelum makan

-           Identifikasi adanya mual, muntah, anoreksia

-           Dorong makan sedikit tapi sering

-           Kolaborasi :

  • Pemberian obat – obatan sesuai indikasi : fenotiazin, kortikosteroid, vitamin, antasid
  • Pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi : Hb
  1. Resiko tinggi infeksi b.d. ketidakadekuatan pertahanan sekunder adanya imunosupresi, supresi sumsum tulang ( efek dari pembatasan dosis baik kemoterpi maupun radiasi, malnutrisi

Tujuan :

Tidak terjadi infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

Kriteria hasil :

-           Tidak ada tanda – tanda infeksi

-           TTV dalam batas normal

-           Hasil laboratorium dalam batas normal : lekosit

Intervensi :

-           Tekankan pada pentingnya hygiene personal, hygiene oral

-           Pantau TTV

-           Berikan perawatan dengan prinsip aseptic

-           Tempatkan klien pada lingkungan yang terhindar dari infeksi

-           Kolaborasi pemeriksaan : kultur

-           Kolaborasi pemberian antibiotik

-           Kolaborasi pemeriksaan laboratorium : lekosit

  1. Resiko tinggi injury b.d. kelelahan, kelemahan fisik.

Tujuan :

Tidak terjadi injury setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.

Kriteria hasil :

-           Klien berada pada kondisi yang jauh dari injury

-           Klien atau keluarga dapat mendemonstrasikan tindakan pencegahan diri dari injury.

Intervensi :

-           Kaji mental klien

-           Pantau status neuromuskuler

-           Kaji kemampuan AKS, latihan dan ambulansi

-           Pertahankan lingkungan yang aman

-           Orientasikan terhadap lingkungan sekitar

-           Sediakan peralatan yang dibutuhkan dan tempatkan dalam jangkauan

-           Pertahankan pagar tempat tidur

-           Beri penerangan yang adekuat

-           Bantu klien dalam AKS

  1. Gangguan bodi image b.d. adanya bau tidak enak pada vagina.

Tujuan :

Tidak terjadi gangguan bodi image setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

Kriteria hasil :

-           Klien mengatakan dapat menerima perubahan pada tubuhnya

-           Klien dapat berinteraksi dengan baik terhadap semua orang

-           Klien dapat menggunakan sistem pendukung keluarga dan masyarakat

Intervensi :

-           Tentukan persepsi klien tentang perubahan citra tubuh

-           Anjurkan mengungkapkan emosi seperti marah, takut, frustrasi, dan cemas

-           Beri umpan balik yang realistik

-           Anjurkan klien untuk berpartisipasi dalam pengobatan

-           Beri reinforcement positif atas usaha-usahanya untuk meningkatkan citra tubuh

-           Kaji respon adaptif

-           Tunjukkan empati

-           Kaji perilaku merusak diri

-           Jaga kebersihan sekitar genitalia

-           Berikan suport mental

 

  1. Perubahan pola sexual b.d. adanya bau tidak enak pada vagina.

Tujuan :

Pola seksual tidak mengalami perubahan / gangguan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

Kriteria hasil :

Klien/pasangan dapat mengungkapkan penerimaan akan perubahan pola seksual

Intervensi :

-           Jelaskan efek penyakit, kesehatan terhadap fungsi seksual

-           Diskusikan perasaan klien terhadap fungsi seksual

-           Diskusikan masalah tersebut dengan pasangan

-           Beri waktu tersendiri untuk klien membicarakan masalah pola seksual.

  1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan produksi energi, hipermetabolik

Tujuan :

Klien tidak mengalami intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

Kriteria hasil :

-           Klien mampu melakukan aktifitas sesuai kemampuan klien

-           TTV dalam batas normal

Intervensi :

-           Rencanakan tindakan keperawatan yang memungkinkan periode istirahat

-           Buat tujuan aktifitas realistis dengan klien

-           Dorong klien untuk melakukan aktifitas apa saja bila mungkin ( duduk, berjalan, bangun )

-           Tingkatkan aktifitas sesuai kemampuan

-           Pantau respon fisiologis terhadap aktifitas

-           Kaji respon TTV tiap 4 jam

  1. Resiko tinggi gangguan integritas kulit b.d. radiasi, kemoterapi, penurunan imunologis

Tujuan :

Tidak terjadi kerusakan integritas kulit setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.

Kriteria hasil :

      Integritas kulit utuh

Intervensi :

-           Kaji kulit dengan efek samping terapi kanker

-           Gunakan air hangat dan sabun ringan waktu mandi

-           Anjurkan klien untuk menghindari mengaruk

-           Ubah posisi / alih baring sesering mungkin

-           Hindari untuk memakai krim apapun kecuali dengan resep dokter

-           Anjurkan klien untuk memakai pakaian lembut dan longgar

-           Kaji efek samping dermatologis yang dicurigai pada kemoterapi

-           Kolaborasi untuk pemberian salep topikal.

  1. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui rute normal, abnormal, mual, muntah, perdarahan

Tujuan :

Klien menunjukkan keseimbangan cairan yang adekuat setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

Kriteria hasil :

-           Membran mukosa lembab

-           Turgor baik

-           TTV stabil

-           Intake dan output seimbang

Intervensi :

-           Pantau masukan dan haluaran, berat jenis

-           Tinbang BB sesuai indikasi

-           Pantau TTV

-           Evaluasi nadi perifer dan pengisian kapiler

-           Kaji turgor kulit dan kelembapan membran mukosa

-           Dorong peningkatan masukan cairan sesuai toleransi klien

-           Observasi adanya mual, muntah, perdarahan

-           Kolaborasi pemberian cairan IV sesuai indikasi

-           Kolaborasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi

SENAM NIFAS (DEFINISI,TUJUAN, MANFAAT, GERAKAN)


Senam Nifas :

Terapi latihan gerak yang diberikan pada ibu nifas

Tujuan Senam nifas:

Mengembalikan kekuatan otot-otot badan supaya ibu sehat jasmani dan memulihkan kondisi fisik tubuh seperti semula atau mendekati seperti semula.

Manfaat senam nifas:

  1. Mengembalikan kekuatan otot-otot badan (terutama pada rahim, vagina dan kandung kemih)
  2. Agar ibu post partum sehat dan bugar
  3. Untuk memperlancar buang air besar dan buang air kecil
  4. Mempertahankan sikap yang baik

Akibat jika senam nifas tidak dilaksanakan:

  1. Kekuatan otot ibu menjadi kurang dan kurang optimal
  2. Ibu post partum menjadi layu dan tidak segar
  3. Produksi ASI kurang lancar
  4. Sering menyebabkan sembelit dan gangguan pada saat kencing
  5. Sikap tubuh ibu kurang baik

Kontra indikasi senam nifas :

  1. Ibu post partum dengan komplikasi yang belum teratasi
  2. Ibu post partum dengan secsio sesarea (operasi)

Sumber :

Bobak, Lowdermilk & Jensen (2005). Buku ajar keperawatan maternitas. Edisi 4. Jakarta : EGC.

 

Gerakan Senam nifas:

  1. Pernafasan Perut

Berbaring dengan lutut ditekuk. Tarik nafas dalam-dalam melalui hidung. Pertahankan tulang iga tetap dan biarkan perut mengembang ke atas. Keluarkan nafas secara perlahan, tetapi dengan menggunakan tenaga sementara otot-otot perut berkontraksi; tahan selama 3 – 5 detik sambil mengeluarkan nafas. Rileks. Ulang sebanyak 10 kali.

  1. Pernafasan Perut Campuran dan Supine Pelvic Tilt

Berbaring dengan lutut ditekuk. Sambil menarik nafas dalam, putar punggung bagian pelvis dengan mendatarkan punggung bawah di lantai atau di tempat tidur. Keluarkan nafas dengan perlahan, tetapi dengan mengerahkan tenaga sementara ibu sambil mengontraksikan otot-otot perut dan mengencangkan bokong. Tahan selama 3-5 detik. Rileks. Ulang 10 kali.

  1. Sentuh Lutut

Berbaring dengan lutut ditekuk. Sementara menarik nafas dalam, sentuhkan bagian bawah dagu ke dada. Sambil mengeluarkan nafas, angkat kepala dan bahu secara  perlahan dan halus  dan upayakan meyentuh lutut dengan lengan diregangkan . Tubuh hanya boleh naik pada bagian punggung sementara pinggang tetap berada dilantai atau ditempat tidur ( kira-kira 6 – 8 inchi). Perlahan-lahan ditururnkan  kepala dan bahu ke posisi semula. Rileks. Ulangi 10 kali.

  1. Angkat Bokong

Berbaring dengan bantuan lengan, lutut ditekuk, dan kaki mendatar. Dengan perlahan naikkan bokong dan lengkungkan punggung. Kembali pelan-pelan ke posisis semula.Rileks. Ulangi 10 kali.

  1. Memutar Satu Lutut

Berbaring di atas punggung dengan tungkai kanan diluruskan  dan tungksi kiri ditekuk pada lutut. Pertahankan bahu datar, secara perlahan putar lutut kiri ke kanan sampai menyentuh lantai atau tempat tidur dan kembali ke posisi semula, Ganti posisi tungkai, putar lutut kanan ke kiri sampai menyentuh lantai atau tempat tidur  dan kembali ke posisi semula. Rileks. Ulangi 10 kali

  1. Memutar Dua Lutut

Berbaring  dengan lutut ditekuk. Pertahankan  bahu mendatar dan kaki diam. Dengan penahanan dan halus putar lutut  ke kiri sampai menyentuh lantai atau tempat tidur. Pertahankan gerakan yang halus, putar lutut kanan  sampai meyentuh lantai atau tempat tidur. Kembali ke posisi semula dan rileks. Ulangi 10 kali

  1. Putar Tungkai

Berbaring dengan kedua tungkai lurus. Pertahankan bahu tetap datar dan kedua tungkai lurus, dengan perlahan dan halus angkat tungkai kiri dan putar sedemikian rupa sehingga menyentuh lantai dan tempat tidur disisi kanan dan kembali ke posisi semula. Ulangi gerakan ini dengan tungkai kanan diputar sampai menyentuh lantai atau tempat tidur  di sisi kiri tubuh. Rileks . ulangi 10 kali.

  1. Angkat Lengan

Berbaring dengan lengan  diangkat sampai membentuk sudut 90 derajat terhadap tubuh. Angkat lengan bersama-sama sehingga telapak tangan dapat bersentuhan. Turunkan secara perlahan.Ulangi 10 kali

Kardiotokografi ( CTG )


A. PENDAHULUAN

Kardiotokografi (KTG)

Sonicaid System 8002 adalah suatu kardiotokograf yang terkomputerisasi dimana sebagian besar interpretasi hasil rekaman penilaian kesejahteraan janin dilakukan oleh komputer yang terdapat di dalamnya. Cara pembacaan hasil rekaman KTG ini ada perbedaan dengan KTG yang konvensional. Pada KTG Sonicaid System 8002, dokter pemeriksa akan memperoleh sejumlah hasil interpretasi komputer terhadap semua data rekaman aktivitas / kondisi janin dan ibu serta  anjuran yang diperlukan. Keputusan akhir tetap ada pada tangan dokter yang bersangkutan setelah juga menilai keadaan klinis dan memberikan penjelasan pada pasien/keluarganya (informed consent). Pemeriksaan ini ditujukan untuk menilai kesejahteraan janin dan dapat dimulai sejak kehamilan ≥ 28 minggu (setelah fungsi sistem saraf otonom berfungsi sempurna).

 

B. INDIKASI

1. IBU

  1. pre eklamsia-eklamsia
  2. ketuban pecah dini
  3. Diabetes melitus
  4. kehamilan >= 40 minggu
  5. vitium cordis
  6. astma bronkhiale
  7. Inkompatibilitas Rhesus atau ABO
  8. Infeksi TORCH
  9. Bekas SC
  10. dll

 

2. JANIN

a. Pertumbuhan janin terhambat (PJT)

b. Gerakan janin berkurang

c. Suspek lilitan tali pusat

d. Aritmia, bradikardi, atau takikardi janin

e. Hidrops fetalis

f. dll

 

C. SYARAT

1. Usia kehamilan ≥ 28 minggu.

2. Ada persetujuan tindak medik dari pasien (secara lisan).

3. Punktum maksimum denyut jantung janin (DJJ) diketahui.

4. Prosedur pemasangan alat dan pengisian data pada komputer sesuai buku petunjuk dari pabrik.

5. Kriteria Dawes / Redman harus dipenuhi, yaitu  :

a. Harus ada episode variasi tinggi (high variation), minimal satu kali; yang merupakan tanda normal . Nilai variasi tinggi ini harus di atas satu persentil untuk usia gestasi yang bersangkutan.

b. Tidak boleh ada deselerasi  > 20 detik (lost beats).

c. Frekuensi dasar denyut jantung janin (basal heart rate) normal adalah 116-160 denyut per menit (dpm) selama rekaman ≥  30 menit. Pada KTG yang konvensional dianut nilai 120-160 dpm.

d. Paling sedikit harus ada 1 kali gerak janin atau 3 gambaran akselerasi DJJ.

e. Tidak boleh ada gambaran ritme sinusoidal pada rekaman DJJ. f. “The short term variation (STV)” harus ≥  3 ms

g. Harus ada akselerasi, atau variabilitas pada episoda tinggi harus  > 10 persentil dan gerak janin

> 20 kali.

h. Tidak boleh ada “error” atau deselerasi pada akhir rekaman KTG.

Bila kriteria ini sudah terpenuhi, maka pada layar monitor akan tampak tulisan  “CRITERIA MET”

6. PERSIAPAN PASIEN

a. Persetujuan tindak medik (Informed Consent) : menjelaskan indikasi, cara pemeriksaan dan kemungkinan hasil yang akan didapat. Persetujuan tindak medik ini dilakukan oleh dokter penanggung jawab pasien (cukup persetujuan lisan).

b. Kosongkan kandung kencing.

c. Periksa kesadaran dan tanda vital ibu.

d. Ibu tidur terlentang, bila ada tanda-tanda insufisiensi utero-plasenter atau gawat janin, ibu tidur miring ke kiri dan diberi oksigen 4 liter / menit.

e. Lakukan pemeriksaan Leopold untuk menentukan letak, presentasi dan punktum maksimum DJJ. Bila inpartu, lakukan periksa dalam.

f. Hitung DJJ selama satu menit penuh (dengarkan apakah ada deselerasi atau takikardi).

g. Pasang transduser untuk tokometri di daerah fundus uteri dan DJJ di daerah punktum maksimum. h. Setelah transduser terpasang baik, rubah posisi ibu menjadi setengah duduk dan beri tahu ibu bila janin terasa bergerak, tekan bel yang telah disediakan serta hitung berapa gerakan bayi yang dirasakan oleh ibu selama perekaman KTG.

i. Hidupkan komputer dan Kardiotokograf.

j. Lama perekaman adalah 30 menit (tergantung keadaan janin dan hasil yang ingin dicapai).

k. Lakukan pencetakkan hasil rekaman KTG.

l. Lakukan dokumentasi data pada disket komputer (data untuk rumah sakit).

m. Matikan komputer dan mesin kardiotokograf. Bersihkan dan rapikan kembali alat pada tempatnya.

n. Beri tahu pada pasien bahwa pemeriksaan telah selesai.

o. Berikan hasil rekaman KTG kepada dokter penanggung jawab atau paramedik membantu membacakan hasi interpretasi komputer secara lengkap kepada dokter. PARAMEDIK (BIDAN) DILARANG  MEMBERIKAN INTERPRETASI HASIL CTG KEPADA PASIEN

 

D. KONTRA-INDIKASI

Sampai saat ini belum ditemukan kontra-indikasi pemeriksaan KTG terhadap ibu maupun janin. Pemeriksaan KTG dengan pembebanan (Contraction stress test ) tidak boleh dilakukan pada bekas operasi SC, gemelli, ketuban pecah dini dll.

 

E. ANALISA

Setelah perekaman data selama 10 menit, dan kemudian setiap dua menit berikutnya, komputer akan melakukan analisa terhadap data yang masuk, dan kemudian menampilkannya pada layar monitor. Bila rekaman abnormal, akan tampak kalimat “STOP”, sebaliknya bila normal akan tampak kalimat

“CONTINUE”.

Seteleh kriteria Dawes/Redman terpenuhi, komputer akan memberi tanda berupa bunyi alarm sebanyak dua kali. Lama pemeriksaan maksimal adalah 60 menit, umumnya 30 menit sudah memadai. Pada kasus khusus dapat dilakukan perangsangan vibroakustik sebelum rekaman KTG dimulai dan lama pemeriksaan cukup 10 – 20 menit.  Adanya episoda variasi tinggi menunjukkan janin dalam keadaan normal dan merupakan petunjuk penting.  Pada kehamilan 28-33 minggu, sebanyak 16,2% janin normal memiliki < 2 akselerasi per jam, dan pada kehamilan 34-41 minggu sebanyak 7,3%; tetapi hanya 0,7% janin normal memiliki episode variasi tinggi  selama kurang dari 10 menit pada kehamilan ≥ 28 minggu. Oleh karena itu episode variasi tinggi merupakan indikator yang lebih baik terhadap kesejahteraan janin, dibanding dengan adanya akselerasi. Variasi tinggi terjadi pada saat janin dalam keadaan aktif, sedangkan variasi rendah terjadi pada saat janin tidur.

a. Frekuensi Denyut Jantung Basal.

Frekuensi denyut jantung basal adalah nilai rata-rata dari seluruh periode variasi rendah DJJ. Frekuensi DJJ basal tinggi (160-170 dpm)  bukanlah keadaan yang membahayakan janin selama short term variability (STV) normal dan tidak ada deselerasi lambat. Frekuensi DJJ basal > 170 dpm menunjukkan kemungkinan adanya infeksi pada janin.

Bila frekuensi basal DJJ < 105 dpm harus segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari penyebabnya dan melakukan tindakan yang tepat. Sangat jarang dijumpai pada janin normal usia 38-42 minggu  terdapat frekuensi basal DJJ 110-115  dpm. Nilai batas normal DJJ adalah 115 dpm, bila nilai tersebut dicapai, maka alarm akan berbunyi. Pada hasil cetakan (print out) akan tertulis : “WARNING low basal FHR. Check that FHR does not continue to fall. Fetal movements present ? Sinusoidal rhythm ?”.

 

b. Akselerasi

Akselerasi adalah peningkatan frekuensi DJJ sebanyak 10 dpm diatas nilai  dasar rata-rata (base-line) DJJ selama 15 detik ATAU  peningkatan 15 dpm di atas baseline selama ≥ 15 detik.

 

c. Deselerasi

Deselerasi adalah penurunan DJJ di bawah frekuensi dasar normal DJJ. Bila terdapat penurunan maksimal 10 dpm selama lebih dari 1 menit atau penurunan lebih dari 20 dpm selama lebih dari 30 detik disebut deselerasi. Deselerasi lebih dari 20 dpm akan tampak sebagai garis merah pada layar monitor. Setiap deselerasi harus segera dicari penyebabnya dan dilakukan penanganan segera.

 

d. Variasi Tinggi dan Variasi Rendah. (High and Low Variation)

Ambang batas variasi tinggi adalah 32 milidetik dan  variasi rendah adalah 30 milidetik. Episode variasi tinggi dan variasi rendah akan tampak  sebagai gambaran garis penuh berwarna hitam pada bagian atas rekaman KTG.  Variasi tinggi akan tampak di atas garis batas, dan variasi rendah akan tampak di bawah garis batas. Variasi ini secara otomatis akan dikoreksi oleh komputer sesuai dengan usia gestasi.

e. “Short Term Variation” (STV)

Evaluasi STV  merupakan parameter terpenting dan paling baik menggambarkan kesejahteraan janin. Rekaman ini dilakukan dari menit ke menit dengan interval 1/16 menit . Pada penilaian STV dimana tidak ada gambaran variasi tinggi DJJ berkorelasi kuat dengan terjadinya asidosis metabolik dan kematian janin intra uterin sbb :

 

f. Gerak Janin

Selama perekaman KTG, pasien diminta menekan bel yang disediakan setiap ibu merasakan gerakan janinnya.  Bila jumlah gerakan janin kurang, akan tampak tulisan “CHECK” pada layar monitor. Pada hasil rekaman KTG akan tertulis jumlah rata-rata gerakan janin per jam .

g. Puncak Kontraksi (Contraction Peaks).

Kontraksi akan terekam apabila tekanan intra uterin meningkat melebihi 16% dari nilai dasar (baseline ) dan lamanya ≥ 30 detik. Jumlah kontraksi akan tertulis pada hasil rekaman KTG.

 

h. Rekaman Tokometri

Bila dalam 10 menit tidak ada perubahan tekanan intra uterin (tokometri) makan komputer akan memberikan tanda alarm dan tampak tulisan “CHECK TOCO”; lakukan pemeriksaan segera apakah pemasangan tokokometernya sudah tepat atau belum (terlalu longgar atau bergeser).

 

i. “Signal Loss”

Selama perekaman KTG, komputer akan selalu memeriksa jumlah data yang hilang (signal loss). Persentasi kehilangan data pada perekaman 5 menit terakhir akan tampak pada  kanan bawah layar monitor. Bila kehilangannya terlalu tinggi, akan terdengar alarm dari komputer dan tampak tulisan “CHECK TRANSDUCER” pada layar monitor. Lakukan perbaikan letak transduser seperlunya dan bila perlu pembatalan rekaman, tekan “C”. Signal loss < 10 % masih dapat di terima untuk pembacaan hasil rekaman KTG. Bila signal loss terlalu banyak rekaman harus diulangi.

Bila signal loss  yang terjadi pada keadaan deselerasi lebih dari 20 dpm < 25%, akan timbul tanda bintang (*). Bila signal loss antara 25-50% akan keluar tanda (?) menunjukkan keragu-raguan (dubious nature). Bila signal loss > 50% maka data tersebut tidak akan dihitung sebagai deselerasi atau akselerasi). Bila signal loss >  80%, maka program akan berhenti dan harus dilakukan  pemeriksaan baru dari awal lagi (new start).

j. Eror

Bila rekaman DJJ terlalu tinggi atau rendah dibanding frekuensi dasar, mungkin akan memberikan data  yang salah (eror), mungkin yang terekam adalah nadi ibu. Pada layar monitor akan tampak tulisan “CHECK TRANSDUCER” dan tulisan “ERROR” pada hasil rekaman KTG. Lakukan pemeriksaan letak transduser untuk memperbaiki rekaman KTG tersebut.

 

k. Tanda Bintang (Asteriks)

Tanda bintang (*) akan selalu tampak pada sisi kanan parameter yang diukur. Tanda (*) tersebut menunjukkan adanya abnormalitas pada parameter yang dinilai. Pada kelainan yang lebih berat akan tampak dua buah tanda (**). SETIAP ADA TANDA BINTANG, SEGERA LAPOR PADA DOKTER PENANGGUNG JAWAB PASIEN TERSEBUT DAN CARI SERTA ATASI PENYEBABNYA.

Keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan terdapatnya dua buah tanda bintang (**)  :

1. DJJ ≤ 115 dpm  atau > 160 dpm  selama  kurang dari 30 menit.

2. Deselerasi > 100 dpm atau deselerasi selama < 30 menit.

3. Tidak ada gerakan janin dan akselerasi < 3.

4. Tidak ada variasi tinggi (high variation).

5. STV < 3 milidetik.

6. Tidak ada akselerasi dan terdapat gerak janin < 21 gerak/jam atau long term variation (LTV) pada garis tinggi (HI) dibawah 10 persentil.

7. LTV pada garis tinggi (HI) dibawah 1 persentil.

 

Keadaan-keadaan yang menyebabkan terdapatnya satu buah tanda bintang (*)  :

1. STV < 4 milidetik tetapi ≥ 3 milidetik.

2. DJJ abnormal (diluar angka 116-160 dpm), tetapi lama rekaman ≥ 30 menit.

3. Terdapat deselerasi, tetapi lamanya tidak memenuhi kriteria perekaman data.

 

F. DOKUMENTASI

Setiap rekaman KTG harus dibuat dokumentasi, bisa dalam bentuk hasil cetakan printer atau direkam dalam disket komputer. Sebaiknya kedua hal tersebut dilakukan bagi setiap pasien. Data dalam disket disimpan oleh rumah sakit, sedangkan hasil cetakan diberikan kepada pasien. Di Inggris, rekaman KTG disimpan selama 25 tahun, hal ini berkaitan dengan aspek medico legal. Sudah saatnya kita memperhatikan hal ini, terutama dalam hal melakukan interpretasi yang benar dan tindakan lanjutannya.

BERAT BADAN IDEAL BAYI, ANAK DAN DEWASA (PERHITUNGAN)


by KB – TK ANAK CERIA BANJARBARU

Cara praktis mendeteksi Gizi Buruk  bisa dengan menghitung berat badan ideal anak balita, ada rumus praktisnya.” Berikut ini tulisan pedoman praktis untuk menentukan berat badan ideal yang sering pergunakan dalam kegiatan-kegiatan pelayanan gizi dan kesehatan.

Berat Badan Ideal Orang Dewasa

Anda mungkin sudah tahu cara menentukan Berat Badan Ideal orang dewasa, yaitu dengan menggunakan rumus  : Berat Badan Ideal = Tinggi Badan – 100. Atau lebih jelasnya dengan rumus sebagai berikut

misalnya Tinggi Badan (TB) 160 cm maka di dapat adalah berat badan normal 60 kg, dimana idealnya berada diantara 54 Kg sampai dengan 66 kg. Di bawah 54 kg  atau dibawah 10% dikatakan kekurangan Berat Badan dan diatas 66 kg  atau diatas 10% dikatakan kelebihan Berat Badan.  Selanjutnya untuk membandingkannya dengan berat badan aktual (real) anda  yang biasa diistilahkan dengan Berat Badan Realatif (BBR) yaitu BB Aktual dibagi dengan BBI dikali 100 %. Hasilnya bisa menunjukkan Anda  kekurangan (nilai BBI < 90 %) atau anda kelebihan BB (nilai BBI >110%).

Rumus ini adalah rumus standar yang kadang hasilnya sebelum dijadikan pedoman kepada induvidu terlebih dahalu disesuaikan dengan jenis kelamin, massa otot, suku bangsa dan penyesuaian lain. Tetapi anda harus tahu rumus ini tidak berlaku untuk anak balita. Rumus diatas hanya berlaku untuk induvidu yang berusia diatas 15 tahun keatas.

Disamping menentukan berat badan ideal untuk orang dewasa seperti diatas, Keadaan berat badan orang dewasa atau status gizi orang dewasa bisa juga menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) keluaran Depkes RI yaitu dengan menggunakan rumus


Dimana BB= berat badan (kg)

TB = tinggi badan dikuadratkan (TB x TB) dalam meter

Inteprestasi Status gizi berdasarkan IMT adalah

  • Kurus tingkat Berat jika nilai IMT <17.0
  • Kurus tingkat Ringan Jika nilai IMT berada diantara 17.0- 18.4
  • Normal jika nilai IMT berada diantara 18,5 – 25.0
  • Gemuk tingkat Ringan Jika IMT berada 25,1 -27.0
  • Gemuk tingkat berat jika nilai IMT berada  >27

Berat Badan Ideal Balita (0-5 tahun)

Sementara itu rumus yang dipergunakan untuk anak balita  ( bisa juga digunakan sampai dengan usia 10 tahun) adalah 


Cara menggunakannya dicontoh sebagai berikut : Contoh pertama : anak balita usia 14 bulan, sebelum usia balita ini dimasukan rumus terlebih dahulu usia 14 bulan diuraikan menjadi tahun dan bulan yaitu 1 tahun 2 bulan dimana 1 tahun adalah 12 bulan. Karena n adalah usia dalam tahun dan bulan maka 1 tahun 2 bulan ditulis dengan 1,2 ( dibaca 1 tahun 2 bulan). Selanjutnya baru dimasukan kedalam rumus yaitu

= (2 x 1,2) + 8 = 2,4 + 8 = 10,4 Jadi hasilnya Berat Badan Ideal untuk anak balita usia 14 bulan adalah 10,4 kg.

contoh pertama diatas sangat praktis, tapi hati-hati, agak sedikit rumit seperti contoh kedua dibawah ini

Contoh kedua: Anak balita usia 2 tahun 10 bulan, seperti diatas ini ditulis dengan n=2,10 dan selanjutnya dikali dengan 2 (sebagaimana rumus 2n) jadi hasilnya adalah 4,20. Hasil ini jangan langsung ditambah dengan 8, karena 4,20 diartikan 4 tahun 20 bulan, 20 bulan artinya 1 tahun 8 bulan, jadi 4,20 berubah menjadi 5,8, baru kemudian ditambah dengan 8 maka Berat badan Idealnya adalah 13,8 kg.

Untuk Berat badan ideal bayi usia 1-12 bulan dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

1. Untuk usia 1-6 bulan dapat menggunakan rumus :

BBL(gr) +(usia x 600 gram)

2. Untuk usia 7-12 bulan dapat menggunakan rumus

a. BBL (gr) + (usia x 500 gram )

b. (usia/2) +3

dimana : BBL adalah Berat Badan Lahir Usia dinyatakan dalam bulan

Intepretasi Berat Badan Ideal Anak Balita.

Sebagaimana halnya dengan intepretasi Berat Badan Ideal Orang dewasa (usia 15 tahun keatas) adalah +10 % BBI ini juga dapat berlaku untuk BBI anak balita. Dimulai dari kisaran normalnya yaitu rumus diatas = (2n +8 ) + 10% (2n+8). Yaitu antara 9.6 -11.44. Orang tua perlu hati-hati bila presentase Berat Badan Real telah berada dibawah atau diatas 20 % dapat dikatakan bahwa anak balita tersebut mempunyai keadaan gizi yang tidak seimbang, Bila berada diatas 20 % anak balita bisa dikatakan kegemukan dan bila berada di bawah 20 % bisa dikatakan kurang gizi dan bisa berlanjut ke Keadaan gizi buruk  untuk balita/anak dan busung lapar untuk orang dewasa.

Sebenarnya untuk mengukur Berat Badan Normal anak balita sudah ditentukan secara internasional yaitu dengan menggunakan standar WHO-NCHS atau juga bisa dengan melihat Kartu Menuju Sehat  (KMS) tumbuh kembang balita, seperti terlihat pada gambar disamping, setiap anak mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan berat badan ideal (baik), yang penting adalah bertambah umur bertambah berat badan dan pola terlihat jelas, tidak tiba-tiba naik  berat badan bulan ini, bulan berikutnya  turun lagi  kemudian naik lagi. Cara diatas menentukan BBI anak balita hanya cara praktis yang bisa langsung digunakan tampa harus melihat pedoman seperti pada standar WHO-NCHS atau juga kartu menuju sehat yang biasa dilihat di posyandu.

Cara Praktis untuk mendeteksi Gizi Buruk

Jadi ketika anak balita diwilayah kerja ada yang tidak datang untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan Berat Badannya. Petugas hanya mempunyai data umur anak dan hasil timbangan Berat Badan bulan-bulan sebelumnya. Masukanlah umur balita tersebut kedalam rumus diatas, hasilnya pada bulan tersebut  anak balita  telah mempunyai data Berat Badan Idealnya. Selanjutnya tanyakan pada ibu-ibu balita yang datang atau bandingkan dengan  ciri-ciri keadaan anak balita  normal seumurnya dengan kisaran berat badan idealnya yang datang di posyandu, jika keadaanya sampai dibawah 30% Berat idealnya. Anda Harus cepat bertindak, Jika tidak Anda akan menemukan balita tersebut gizi kurang dan memungkinkan atau berlanjut kepada gizi buruk.

Demikian, salah satu cara sederhana  upaya untuk menemukan dan menurunkan kasus gizi buruk pada anak dan busung lapar pada orang dewasa, semoga bermanfaat.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 310 other followers